Kemaren, 29 Agt 2019, iseng-iseng nonton di XXI. Karena ada yang ngajak, dan kebetulan saldo M-tix (atau mirip itu) masih banyak. Ya udah, berangkat bersama 3 orang temen, ke XXI di ACC Passo Ambon, Film yang diputar Gundala (putra petir). Sekali-kali nonton film Indonesia, biasanya saya paling males nonton film Indonesia, maklum, dalam pikiran saya kebanyakan film Indonesia ya paling-paling sekelas sinetron itu, mirip-mirip kayak Saras 008 atau Danker, hahaha. Tapi kali ini saya pengen nonton sekedar pengen tahu sudah seberapa bagus sih kemajuan film Indonesia di genre pahlawan super.
Film Gundala ini dalam ekspektasi saya akan seperti film Spiderman yang pertama dulu. Atau film pahlawan super lainnya versi Hollywood, dimana ada pengenalan singkat tokoh utama, terus dari mana dia dapat kekuatan supernya, terus bagaimana dia menggunakan kekuatan supernya itu menghadapi musuh utama dan bagaimana dengan kekuatan supernya itu dia menang.
Tapi ternyata…….. jeng…jeng… jeng….
Setelah nonton film Gundala semua ekspektasi yang saya harapkan dari film tentang pahlawan super menjadi buyar. Plot cerita tidak seperti yang penonton harapkan, atau paling tidak saya harapkan, hehehe. Pengenalan tokoh utama terlalu dalam dan luamaaa banget di pembuka film, dan persis seperti sinetron, terlalu berkutat pada hal-hal yang tidak relevan dengan judul Gundala yang putra petir itu. Malah mirip film drama yang diselingi adegan silat dan pertarungan tangan kosong. Padahal ini kan film tentang Gundala, yang putra petir, pahlawan super dengan kekuatan petir. Mana petirnya? Hellooow. Yang ada tentang petirnya hanya sambaran petir ke Gundala, dan memberikan efek penyembuhan Gundala dari luka. itu thok thil wes.
Selain itu ada beberapa kritik saya terhadap film Gundala:
1. Plot cerita
Film ini terlalu banyak bertele-tele pada masa kecil Gundala yang menurut saya sebenarnya gak begitu relevan dengan tema film superhero (paling tidak separo waktu film). Seharusnya cerita tentang masa kecil, latar belakang keluarga, ketika tumbuh di jalanan, diungkap secara singkat, yang penting penonton paham bagaimana latar belakang tokoh utama. Saya mengapresiasi pengungkapan masa lalu Pengkor yang cukup singkat tapi penonton sudah paham bagaimana masa lalunya, itu cukup menurut saya. Seharusnya pengungkapan masa lalu Gundala juga seperti itu. Ini kan film tentang pahlawan super, bukan tentang keluarga.
2. Asal kekuatan
Asal kekuatan dari Gundala tidak jelas diceritakan bagaimana dia memperoleh kekuatannya, penonton hanya tahu tiba-tiba Gundala punya kekuatan petir dan berakibat pecahnya tameng polisi. Tidak jelas bagaimana kekuatan itu bisa muncul dalam tubuhnya. Beda dengan ekpektasi saya seperti dalam film Spiderman yang dijelaskan bahwa Spiderman memperoleh kekuatan ketika dia digigit laba-laba.
3. Seting waktu
Setting waktu yang tidak begitu jelas. Ketika Gundala kecil, jalanan di perkotaan dan mobil yang lewat sama saja dengan ketika Gundala sudah dewasa. Padahal kan paling tidak terpaut 20 tahun, itu waktu yang lama untuk terjadinya perubahan mode dan perkembangan kota.
4. Tidak sekolah tapi bisa jadi sekuriti dan pintar benerin elektronik
Yang penonton tahu Gundala waktu kecil tidak sekolah. Kok tiba-tiba ketika dewasa bisa jadi sekuriti dan ahli dalam bidang elektronika. Seharusnya ini disinggung sedikit, tapi malah tidak, dan malah terlalu berkutat di masalah lain.
5. Pengenalan tokoh penolong
Kemunculan penolong pahlawan perempuan yang tidak dijelaskan bagaimana dia pergi setelah menolong Gundala, seharusnya diungkapkan bagaimana dia kemudian melesat pergi lagi, tapi ternyata tidak. Dia hanya muncul sesaat, menolong, terus tidak jelas setelah itu melesat pergi atau tidak, atau ngumpet hihihi. Dan kemudian dia muncul lagi di akhir film, kemunculan di akhir film dan kemudian masuk ke mobil menurut saya lebih keren, saya mengapresiasi ini. ekspektasi saya kalo mau memunculkan pahlawan baru yang digunakan untuk pengenalan pada episode berikutnya paling tidak seperti dalam film Hollywood, muncul sebentar, menolong, lalu pergi, jadi penonton tahu bahwa setelah menolong dia pergi, entah perginya terbang atau ngilang cling. Singkat tapi penonton dapat gambaran yang diinginkan.
6. Kelompok Pengkor
Anak-anak yatim teman si Pengkor dipanggil dari berbagai latar belakang profesi, tapi tidak diungkap lebih jauh peran masing-masing anak yatim tersebut dan kekuatan yang dimilikinya, serta bagaimana dia kalah/mati oleh Gundala. Pertarungan Gundala melawan mereka secara bersamaan agak konyol, karena tidak jelas masing-masing tokoh tersebut kalah atau mati atau gimana, kok tiba-tiba selesai. Harusnya seperti dalam film Kill Bill misalnya, dimana setiap tokoh dijelaskan seperlunya, apa keistimewaannya, punya peran apa dalam film tersebut dan bagaimana dia berakhir. Bahkan di akhir film juga tidak dijelaskan, paling tidak kilasan mereka itu mati atau lari. Setahu saya hanya satu orang yang disuruh pergi lari sama si Pengkor setelah Pengkor tertembak.
7. Mobil pembawa anti Virus
Mobil van putih pembawa obat anti virus ketika dilepas untuk membagikan obat ke masyarakat banyak banget mobilnya, disebar ke penjuru negeri, dan harus belok ke lobby yang gak perlu menurut saya hahaha. Tapi ketika Gundala mengejar satu mobil dan berhasil meledakannya (setelah ditolong seorang pahlawan penolong) tidak diceritakan apakah ledakan itu berpengaruh ke seluruh mobil atau hanya mobil itu yang meledak. Kok tiba-tiba semua urusan selesai? Jadi penonton bingung nih, berarti virus yang dibawa mobil lain selamat atau tidak? Gimana dengan nasib mobil yang lain?
8. Kekuatan Super
Judulnya Gundala, Gundala itu putra petir, saya berekspektasi Gundala punya kemampuan mengeluarkan petir seperti Thor, sehingga ketika di akhir film dikeroyok musuh akan mengeluarkan kekuatan supernya itu. Paling tidak di akhir saja, karena boleh jadi dia masih belajar mengeluarkan kekuatannya itu, nyatanya tidak. Dia hanya bertempur dengan seni beladiri tangan kosong. Hellow… Ini film pahlawan super atau film silat? Kalo seperti film superhero lain di Hollywood pertempuran selalu melibatkan kekuatan supernya itu, bukan seni beladirinya.
9. Dialog.
Dalam salah satu adegan di rumah susun, ketika dititipin anak oleh cewek tetangganya, Gundala bertanya ke anak tetangganya, “mau kemana ibumu” dijawab “gak tau”. Gundala nanya lagi, “dia bukan ibumu?” dijawab sama si anak “Bukan, dia kakakku”. Loh…. Tadi nanya kemana ibumu, berarti Gundala berpikir cewek itu ibunya anak kecil itu. Tapi ketika dijawab tidak tau, kok Gundala jadi berpikir dia bukan ibumu? Menurut saya aneh ini, hahahaha. Menurut saya harusnya dialognya gini “mau kemana ibumu” dijawab “dia bukan ibuku”. Gundala nanya lagi, “trus dia siapamu?” dijawab si anak “dia kakakku”.
10. Ulasan Tokoh
Tokoh-tokoh yang tidak terkait tapi diulas panjang lebar, seperti Awang. Dan ada penjahat pembakar pasar yang tahu-tahu muncul di panggung biola dan entah dari mana dan apa maksud dia pemain biola tapi juga penjahat. Hubungannya apa.
11. Politik
Film ini juga terlalu banyak bercerita tentang politik dan anggota dewan (DPR). Sebenarnya gak masalah kalo mau seperti itu tapi porsinya dikurangi, intinya saja. Karena ini kan film tentang superhero dengan kekuatan supernya, itu yang seharusnya diceritakan panjang lebar.
Well, dengan segala kekurangannya bolehlah kita apresiasi paling tidak film Indonesia sudah mulai bangkit. Dari segi pengambilan gambar sudah lumayan. Meskipun demikian saya kok cenderung masih suka dengan film Indonesia jaman dulu seperti Cut Nyak Dien, Nagabonar, Api di Bukit Menoreh, Titian serambut dibelah tujuh. Film-film jaman dulu itu menurut saya lebih bagus dari segi plot cerita, kekuatan dialog, dan sebagainya. Tapi tidak semua film Indonesia sekarang kurang bagus lho, ada yang bagus menurut saya seperti “Yo Wes Ben” yang salah satunya dibintangi Joshua.
Itulah sedikit ulasan saya mengenai Film Gundala yang barusan saya tonton, ini hanya sekedar kritik biasa, dan tidak ada maksud menjelekkan karya bangsa sendiri, dan itu semua hanya pendapat pribadi saya. Semoga memberi manfaat. Maju terus Film Indonesia.
Ambon, 30 Agustus 2019
Salam
Ubaidi
