Feeds:
Pos
Komentar

Kritik Film Gundala

Kemaren, 29 Agt 2019, iseng-iseng nonton di XXI. Karena ada yang ngajak, dan kebetulan saldo M-tix (atau mirip itu) masih banyak. Ya udah, berangkat bersama 3 orang temen, ke XXI di ACC Passo Ambon, Film yang diputar Gundala (putra petir). Sekali-kali nonton film Indonesia, biasanya saya paling males nonton film Indonesia, maklum, dalam pikiran saya kebanyakan film Indonesia ya paling-paling sekelas sinetron itu, mirip-mirip kayak Saras 008 atau Danker, hahaha. Tapi kali ini saya pengen nonton sekedar pengen tahu sudah seberapa bagus sih kemajuan film Indonesia di genre pahlawan super.
Film Gundala ini dalam ekspektasi saya akan seperti film Spiderman yang pertama dulu. Atau film pahlawan super lainnya versi Hollywood, dimana ada pengenalan singkat tokoh utama, terus dari mana dia dapat kekuatan supernya, terus bagaimana dia menggunakan kekuatan supernya itu menghadapi musuh utama dan bagaimana dengan kekuatan supernya itu dia menang.
Tapi ternyata…….. jeng…jeng… jeng….
Setelah nonton film Gundala semua ekspektasi yang saya harapkan dari film tentang pahlawan super menjadi buyar. Plot cerita tidak seperti yang penonton harapkan, atau paling tidak saya harapkan, hehehe. Pengenalan tokoh utama terlalu dalam dan luamaaa banget di pembuka film, dan persis seperti sinetron, terlalu berkutat pada hal-hal yang tidak relevan dengan judul Gundala yang putra petir itu. Malah mirip film drama yang diselingi adegan silat dan pertarungan tangan kosong. Padahal ini kan film tentang Gundala, yang putra petir, pahlawan super dengan kekuatan petir. Mana petirnya? Hellooow. Yang ada tentang petirnya hanya sambaran petir ke Gundala, dan memberikan efek penyembuhan Gundala dari luka. itu thok thil wes.
Selain itu ada beberapa kritik saya terhadap film Gundala:
1. Plot cerita
Film ini terlalu banyak bertele-tele pada masa kecil Gundala yang menurut saya sebenarnya gak begitu relevan dengan tema film superhero (paling tidak separo waktu film). Seharusnya cerita tentang masa kecil, latar belakang keluarga, ketika tumbuh di jalanan, diungkap secara singkat, yang penting penonton paham bagaimana latar belakang tokoh utama. Saya mengapresiasi pengungkapan masa lalu Pengkor yang cukup singkat tapi penonton sudah paham bagaimana masa lalunya, itu cukup menurut saya. Seharusnya pengungkapan masa lalu Gundala juga seperti itu. Ini kan film tentang pahlawan super, bukan tentang keluarga.

2. Asal kekuatan
Asal kekuatan dari Gundala tidak jelas diceritakan bagaimana dia memperoleh kekuatannya, penonton hanya tahu tiba-tiba Gundala punya kekuatan petir dan berakibat pecahnya tameng polisi. Tidak jelas bagaimana kekuatan itu bisa muncul dalam tubuhnya. Beda dengan ekpektasi saya seperti dalam film Spiderman yang dijelaskan bahwa Spiderman memperoleh kekuatan ketika dia digigit laba-laba.

3. Seting waktu
Setting waktu yang tidak begitu jelas. Ketika Gundala kecil, jalanan di perkotaan dan mobil yang lewat sama saja dengan ketika Gundala sudah dewasa. Padahal kan paling tidak terpaut 20 tahun, itu waktu yang lama untuk terjadinya perubahan mode dan perkembangan kota.

4. Tidak sekolah tapi bisa jadi sekuriti dan pintar benerin elektronik
Yang penonton tahu Gundala waktu kecil tidak sekolah. Kok tiba-tiba ketika dewasa bisa jadi sekuriti dan ahli dalam bidang elektronika. Seharusnya ini disinggung sedikit, tapi malah tidak, dan malah terlalu berkutat di masalah lain.

5. Pengenalan tokoh penolong
Kemunculan penolong pahlawan perempuan yang tidak dijelaskan bagaimana dia pergi setelah menolong Gundala, seharusnya diungkapkan bagaimana dia kemudian melesat pergi lagi, tapi ternyata tidak. Dia hanya muncul sesaat, menolong, terus tidak jelas setelah itu melesat pergi atau tidak, atau ngumpet hihihi. Dan kemudian dia muncul lagi di akhir film, kemunculan di akhir film dan kemudian masuk ke mobil menurut saya lebih keren, saya mengapresiasi ini. ekspektasi saya kalo mau memunculkan pahlawan baru yang digunakan untuk pengenalan pada episode berikutnya paling tidak seperti dalam film Hollywood, muncul sebentar, menolong, lalu pergi, jadi penonton tahu bahwa setelah menolong dia pergi, entah perginya terbang atau ngilang cling. Singkat tapi penonton dapat gambaran yang diinginkan.

6. Kelompok Pengkor
Anak-anak yatim teman si Pengkor dipanggil dari berbagai latar belakang profesi, tapi tidak diungkap lebih jauh peran masing-masing anak yatim tersebut dan kekuatan yang dimilikinya, serta bagaimana dia kalah/mati oleh Gundala. Pertarungan Gundala melawan mereka secara bersamaan agak konyol, karena tidak jelas masing-masing tokoh tersebut kalah atau mati atau gimana, kok tiba-tiba selesai. Harusnya seperti dalam film Kill Bill misalnya, dimana setiap tokoh dijelaskan seperlunya, apa keistimewaannya, punya peran apa dalam film tersebut dan bagaimana dia berakhir. Bahkan di akhir film juga tidak dijelaskan, paling tidak kilasan mereka itu mati atau lari. Setahu saya hanya satu orang yang disuruh pergi lari sama si Pengkor setelah Pengkor tertembak.

7. Mobil pembawa anti Virus
Mobil van putih pembawa obat anti virus ketika dilepas untuk membagikan obat ke masyarakat banyak banget mobilnya, disebar ke penjuru negeri, dan harus belok ke lobby yang gak perlu menurut saya hahaha. Tapi ketika Gundala mengejar satu mobil dan berhasil meledakannya (setelah ditolong seorang pahlawan penolong) tidak diceritakan apakah ledakan itu berpengaruh ke seluruh mobil atau hanya mobil itu yang meledak. Kok tiba-tiba semua urusan selesai? Jadi penonton bingung nih, berarti virus yang dibawa mobil lain selamat atau tidak? Gimana dengan nasib mobil yang lain?

8. Kekuatan Super
Judulnya Gundala, Gundala itu putra petir, saya berekspektasi Gundala punya kemampuan mengeluarkan petir seperti Thor, sehingga ketika di akhir film dikeroyok musuh akan mengeluarkan kekuatan supernya itu. Paling tidak di akhir saja, karena boleh jadi dia masih belajar mengeluarkan kekuatannya itu, nyatanya tidak. Dia hanya bertempur dengan seni beladiri tangan kosong. Hellow… Ini film pahlawan super atau film silat? Kalo seperti film superhero lain di Hollywood pertempuran selalu melibatkan kekuatan supernya itu, bukan seni beladirinya.

9. Dialog.
Dalam salah satu adegan di rumah susun, ketika dititipin anak oleh cewek tetangganya, Gundala bertanya ke anak tetangganya, “mau kemana ibumu” dijawab “gak tau”. Gundala nanya lagi, “dia bukan ibumu?” dijawab sama si anak “Bukan, dia kakakku”. Loh…. Tadi nanya kemana ibumu, berarti Gundala berpikir cewek itu ibunya anak kecil itu. Tapi ketika dijawab tidak tau, kok Gundala jadi berpikir dia bukan ibumu? Menurut saya aneh ini, hahahaha. Menurut saya harusnya dialognya gini “mau kemana ibumu” dijawab “dia bukan ibuku”. Gundala nanya lagi, “trus dia siapamu?” dijawab si anak “dia kakakku”.

10. Ulasan Tokoh
Tokoh-tokoh yang tidak terkait tapi diulas panjang lebar, seperti Awang. Dan ada penjahat pembakar pasar yang tahu-tahu muncul di panggung biola dan entah dari mana dan apa maksud dia pemain biola tapi juga penjahat. Hubungannya apa.

11. Politik
Film ini juga terlalu banyak bercerita tentang politik dan anggota dewan (DPR). Sebenarnya gak masalah kalo mau seperti itu tapi porsinya dikurangi, intinya saja. Karena ini kan film tentang superhero dengan kekuatan supernya, itu yang seharusnya diceritakan panjang lebar.
Well, dengan segala kekurangannya bolehlah kita apresiasi paling tidak film Indonesia sudah mulai bangkit. Dari segi pengambilan gambar sudah lumayan. Meskipun demikian saya kok cenderung masih suka dengan film Indonesia jaman dulu seperti Cut Nyak Dien, Nagabonar, Api di Bukit Menoreh, Titian serambut dibelah tujuh. Film-film jaman dulu itu menurut saya lebih bagus dari segi plot cerita, kekuatan dialog, dan sebagainya. Tapi tidak semua film Indonesia sekarang kurang bagus lho, ada yang bagus menurut saya seperti “Yo Wes Ben” yang salah satunya dibintangi Joshua.
Itulah sedikit ulasan saya mengenai Film Gundala yang barusan saya tonton, ini hanya sekedar kritik biasa, dan tidak ada maksud menjelekkan karya bangsa sendiri, dan itu semua hanya pendapat pribadi saya. Semoga memberi manfaat. Maju terus Film Indonesia.

Ambon, 30 Agustus 2019

Salam
Ubaidi

Persahabatan

paku

“Persahabatan bagai kepompong…. Merubah ulat menjadi kupu-kupu…. “

Itulah sepenggal lirik dari sebuah lagu berjudul “Kepompong” yang cukup enak didengar. Sesuai lirik lagu tersebut saya ingin berkisah sedikit tentang persahabatan, sepenggal dongeng sebelum tidur. Mungkin kisah ini sudah banyak diceritakan orang, mungkin sudah banyak yang tahu mengenai kisah ini, atau istilahnya “repost”, tapi tak pe lah, atau Rapopo kata anak saya Naela yang lagi senang belajar bahasa Jawa. Berikut ini kisahnya.

Pada suatu hari ada seorang anak lelaki yang memiliki watak dan perilaku yang buruk. Setiap hari selalu berbuat onar dan melukai kawan-kawannya. Karena merasa prihatin, ayahnya ingin memberi nasehat kepadanya agar tidak lagi berperilaku buruk. Nasehat itu disampaikan ayahnya dengan cara memberi anak itu sekantung penuh paku, dan menyuruh memaku satu batang paku di kayu pagar pekarangan setiap kali dia kehilangan kesabarannya dan berperilaku buruk ataupun melukai kawan-kawannya.

Pada hari pertama anak itu memaku 29 batang paku di pagar. Pada hari-hari berikutnya dia belajar untuk menahan diri dan berperilaku lebih baik. Rupanya karena niat yang baik dan tulus anak itu dapat mengurangi watak buruknya, dan jumlah paku yang dipakainya pun berkurang dari hari ke hari. Anak itu pun menyadari bahwa lebih nyaman baginya untuk menahan diri daripada memaku di pagar.

Akhirnya tiba suatu hari ketika anak itu tidak perlu lagi memaku sebatang paku pun di pagar pekarangan karena tidak lagi dia berperilaku buruk. Dengan gembira disampaikannya hal itu kepada ayahnya. Mereka pun mendatangi pagar yang telah penuh dengan paku yang tertancap sebanyak anak itu melakukan perilaku buruk dan sebanyak dia melukai kawan-kawannya.

Kemudian ayahnya memberikan lagi nasehat agar dia mencabut satu batang paku dari pagar setiap hari bila dia berhasil menahan diri atau bersabar untuk tidak berperilaku buruk meskipun ada keinginan untuk itu.

Hari demi hari berlalu, minggu pun berganti bulan, sehingga akhirnya tiba suatu hari dimana anak itu bisa menyampaikan kepada ayahnya bahwa semua paku sudah tercabut seluruhnya dari pagar.

Sekali lagi ayah dan anak itu mendatangi pagar yang telah bersih dari paku dan hanya menyisakan lubang-lubang bekas paku. Sang ayah menyampaikan nasehatnya kembali dan berkata: ”wahai anakku, kamu sudah berlaku baik, tetapi coba kau lihat betapa banyak lubang yang ada di pagar. Pagar ini tidak akan kembali seperti semula. Lubang bekas paku itu akan selamanya tertinggal di pagar. Seperti itulah kalau kamu bertengkar ataupun melukai kawan-kawanmu, hal itu akan selalu meninggalkan luka seperti lubang pada pagar ini.”

“Kau bisa menusukkan pisau di tubuh orang dan mencabutnya kembali kemudian mengobatinya sampai sembuh, tetapi akan meninggalkan bekas luka selamanya. Seperti itu pula jika kau menyakiti ataupun melukai kawan-kawanmu dengan ucapanmu. Meskipun tidak kelihatan namun luka karena ucapan akan selalu tinggal selamanya dalam hati kawan yang kau lukai. Dan luka karena ucapan terkadang lebih terasa perih dari pada luka fisik. Tak peduli berapa kali kau meminta maaf atau menyesal, lukanya akan tetap tinggal, selamanya.”

“Kawan-kawan adalah harta yang berharga. Mereka selalu ada kala kita butuh pertolongan. Mereka selalu ada di sisi kita dalam suka maupun duka. Jangan biarkan sesuatu pun termasuk uang dan harta kekayaan merusak sebuah persahabatan atau pertemanan. Bila kau tidak mendapatkan apa yang kau inginkan, mungkin saja memang hanya itu rejekimu, karena jodoh mati dan rejeki Allah yang mengatur. ”

Akhirnya sang ayah mengakhiri nasehatnya: “Wahai anakku, apakah kau akan menjadi baik atau buruk, itu adalah sebuah pilihan. Berperilakulah yang baik dan bersihkan hati dan pikiranmu dalam menentukan pilihan hidupmu.”

Waktu Tak Kan Bisa Terulang

Waktu kita terlalu berharga
Untuk disia-siakan dengan Pekerjaan yang tiada habisnya
Rapat-rapat yang kadang hanya untuk menghabiskan Anggaran
Dinas-dinas yang kadang hanya untuk memenuhi SPJ
Menyelesaikan masalah orang lain yang sebenarnya bukan masalah kita
Yang bahkan mereka pun tak peduli dengan kita
Bekerja untuk mewujudkan impian orang lain
Sedangkan kita tak pernah memikirkan impian kita
Bekerja untuk membuat orang lain menjadi terkenal dan kaya raya
Sedangkan kita tenggelam dalam keterbatasan
Bekerja untuk membuat orang lain menerima pujian dari jerih payah kita
sedangkan kita hanya menerima resiko dari kesalahannya

Sementara kita bekerja itu,
anak-anak kita
bermain sendiri , Tanpa kita
merangkak untuk pertama kali, tanpa kehadiran kita
berjalan untuk pertama kali, tanpa bisa kita saksikan
mengucapkan kata pertamanya, tanpa kita di dekatnya
Bercanda tawa dan bersenda gurau, dengan orang lain
Karena kita masih sibuk bekerja untuk orang lain
Atau kita masih terjebak dalam kemacetan,
Menghamburkan waktu yang berharga
Kehilangan moment-moment berharga bersama keluarga
Moment yang hanya datang sekali
Dan tidak pernah terulang lagi
Untuk selamanya…

Hingga suatu saat
Kita terbangun dan sadar
Bahwa hidup ini terlalu singkat
Pada saat itu kita ingin bermain dengan anak-anak kita
Tapi mereka sudah besar dan tidak mau lagi bermain bersama orang tuanya
Mereka lebih suka bermain dengan teman-teman sebayanya
Dan ketika mereka menjadi dewasa
Mereka pergi
Menjadi milik orang lain
Dan yang tersisa hanya penyesalan

Seandainya waktu bisa diulang
Seandainya dulu kita lebih memilih bekerja untuk keluarga
Dan bukan bekerja untuk orang lain
Seandainya ada banyak pilihan hidup yang tersedia
Tapi kenyataan berkata lain
Waktu tak bisa diulang
Ketika anak-anak kita tumbuh dewasa kita tenggelam dalam pekerjaan untuk orang lain
Hingga suatu hari ketika hidup kita menjelang senja
Hanya dua kemungkinan yang akan kita miliki
Apakah kita akan menyesal, karena kehilangan waktu yang bermakna
Ataukah kita akan bahagia mengenang indahnya moment bersama keluarga
Pilihan itu terserah pada kita

Dalam percakapan sehari-hari dengan menggunakan bahasa Jawa, khususnya yang tinggal di wilayah Surakarta dan sekitarnya (Sobosukawonosraten = Solo Boyolali Sukoharjo Karanganyar Wonogiri Sragen Klaten) mengenal beberapa istilah tertentu dalam bahasa Jawa yang unik dan kadang hanya dimengerti oleh orang di wilayah tersebut. Istilah tersebut menunjukkan sesuatu kegiatan ataupun untuk menyebut keadaan dan benda-benda tertentu. Terkadang istilah tersebut berbeda dengan daerah lain untuk kegiatan yang sama. Untuk lebih jelasnya berikut adalah istilah-istilah tersebut beserta penjelasannya:

1. Oglangan
Artinya keadaan mati lampu atau mati listrik dalam satu wilayah. Kalau mati listriknya karena konslet atau hanya satu rumah istilahnya “Njeglek” atau “Anjlok”.

2. Kebanan
Istilah untuk segala macam kondisi darurat dengan sepeda motor. Pada awalnya istilah ini dipakai kalau kita mengalami pecah ban. Namun lama-kelamaan dalam kondisi apapun seperti mati busi, bensin habis, mogok karena apapun, pasti diistilahkan kebanan. Jadi kalau ada orang bilang “aku wingi kebanan neng Kleco”, hal itu tidak lantas bahwa dia mengalami pecah ban, tapi bisa juga karena mogok atau kehabisan bensin.

3. Momen
Istilah kalau sedang ada razia kendaraan bermotor oleh Polisi. Biasanya kalau ada razia atau operasi patuh dari polisi, orang-orang sesama pengendara motor maupun yang di pinggir jalan muncul rasa solidaritas dengan memberi peringatan terutama kepada pengendara motor yang tidak memakai helm dengan memberi tahu mereka “awas ada momen neng ngarep”.

4. Cagak Thing
Istilah untuk menyebut Tiang Listrik. Jaman dulu tiang listrik selalu terbuat dari besi yang kalau dipukul mengeluarkan bunyi “Thing” (T -nya tebal), sehingga tiang listrik disebut Cagak Thing. Sekarang meskipun tiang listrik tidak lagi terbuat dari besi melainkan dari semen tetap saja disebut Cagak thing.

5. Brom Pit
Istilah untuk menyebut “Sepeda Motor”. Dalam bahasa jawa sepeda disebut “Pit”, sehingga untuk pit yang berbunyi “brom… brom” maka disebut Brom Pit.

6. Montor
Istilah untuk menyebut Mobil. Hal ini berbeda dengan Motor yang biasa dipakai untuk menyebut sepeda motor. Yang membedakan hanya huruf “n”.

7. Montor Alus
Istilah untuk menyebut Mobil Sedan. Pada masa kecil saya dulu istilah ini sangat populer di Solo, namun sekarang nampaknya tidak lagi. Mungkin karena saking banyaknya mobil sekarang yang lebih halus dari sedan. Pernah suatu ketika saya diketawain orang dan dibilang “ndeso” karena kecetus kata-kata montor alus, hahaha.

8. Montor Mabur
Istilah untuk menyebut Pesawat Terbang. Di tempat lain mungkin istilahnya sama.

9. Cenggereng
Istilah untuk menyebut “Rempeyek”. Mungkin sejarahnya kenapa disebut cenggereng karena bentuknya yang menyerupai “Cengger” atau “Jengger ayam” dalam bahsa Indonesia. Karena Cengger itu digoreng maka disebutlah “Cenggereng” atau Cengger digoreng. Hal yang sama seperti nama makanan dalam bahasa Sunda semisal Cireng untuk aci digoreng, atau combro untuk oncom dijero.

10. Bregedel
Istilah untuk menyebut Perkedel. Hampir mirip memang, namun penyebutannya dalam bahasa jawa agak tebal dan medok.

11. Horo to Gage
Istilah yang dipakai kalau terkejut atau heran. Terkadang ada pula yang mengucapkan “Horok”. Dalam bahasa Indonesia orang yang terkejut atau heran akan berkata “Gimana sih” atau “ya ampun”. Kata “horo to gage” tidak juga mutlak untuk itu, namun lebih seperti sebuah logat atau kebiasaan.

12. Tus
Istilah untuk menantang orang. Pada masa kecil saya dulu kalau ada anak yang marah dengan temannya dan merasa berani untuk menantang berkelahi maka dia akan bilang kepada lawannya “Tus, wani piye”. Kalau lawannya juga bilang “Tus” maka berkelahilah mereka, hahaha. Sekarang nampaknya istilah itu tidak lagi digunakan anak-anak di Solo.

13. Cemung
Istilah untuk menyebut kaleng. Biasanya yang disebut cemung kalau kalengnya kecil seperti bekas susu bendera kental manis (bukan iklan lho).

14. Cuwo
Istilah untuk menyebut baskom yang terbuat dari plastik.

15. Manggelo
Istilah untuk menyebut barang berharga Lima Rupiah. Terkadang disebut juga Mangpi, dari kata limang rupiah. Pada masa kecil saya dulu banyak sekali makanan dan gorengan seharga Rp5,- atau Separohnya. Sekarang untuk gorengan harganya Rp1000,- sehingga kata-kata manggelo tidak ada lagi.

16. Mace
Istilah lain dari “Ngeledek”.

17. Dikumbah
Istilah untuk orang yang diledek habis-habisan.

18. Nabrak Thukulan Klungsu
Istilah untuk orang yang kecelakaan karena menabrak pohon. Pohon apapun akan disebut Thukulan klungsu. Dalam arti sebenarnya klungsu adalah biji Asem, bentuknya sangatlah kecil seperti Kecik atau biji sawo. Jadi kalau thukulan klungsu berarti Pohon Asem.

19. Nglalu
Istilah untuk orang yang mati bunuh diri.

20. Gambar Corek
Istilah untuk menyebut film kartun. pada masa kecil saya dulu temen-temen selalu menggunakan istilah gambar corek untuk menyebut film kartun yang diputar di TVRI.

21. Merkengkong
Istilah untuk menyebut “Tanggung”. misal pada kata parkire kok merkengkong, berarti parkirnya tanggung.

22. Rengkot
Istilah untuk menyebut “Rantang”, atau wadah yang terbuat dari bahan kaleng. Pada jaman dulu biasanya warna dan coraknya loreng-loreng hijau.

Selain istilah-istilah tersebut terdapat kekhususan lain di wilayah Solo dan sekitarnya, yang salah satunya adalah kalau ada orang meninggal dikibarkan bendera merah, dan bukan kuning seperti di daerah Jawa Barat. Barangkali beberapa istilah lain yang khusus hanya dimengerti oleh orang Solo dan sekitarnya masih banyak, namun beberapa sudah tidak bisa saya ingat lagi. Disamping karena sudah lebih dari 10 tahun saya hidup di perantauan juga bahasa Jawa sekarang berkembang seiring dengan perkembangan teknologi. Barangkali ada yang mau menambahkan Sumonggo dipun tambahaken.

Ubaidi
30 November 2011

Dahulu waktu era tahun 80-an, pada saat televisi hanya ada TVRI, ada tiga lagu yang sering muncul di sela-sela acara TV pada waktu itu. Ke-tiga lagu itu sangat saya sukai dan saya hapal ketiganya hingga saat ini. Namun sayang sekali lagu itu tak pernah lagi di putar di TVRI atau di TV manapun. Bahkan ketika saya searching di internet pun saya tidak menemukannya. Ini lah ketiga lagu tersebut:

Pak Nelayan

Tak kan ada ikan gurih di meja makan
Tanpa ada jerih payah nelayan
Daging ikan sumber gizi bermutu tinggi
Diperlukan semua manusia

Tiap malam mengembara di lautan
Ombak badai menghadang dan menerjang
Pak Nelayan tak gentar dalam dharmanya
Demi kita yang membutuhkan pangan

Petani

Nasi putih terhidang di meja
Kita makan tiap hari
Ber-aneka macam hasil bumi
Dari manakah datangnya

Dari sawah dan ladang di sana
Petani-lah penanamnya
Panas terik tak dirasa
Hujan rintik tak mengapa
Masyarakat butuh bahan pangan
Terima kasih Bapak tani
Terima kasih Ibu Tani
Tugas anda sungguh mulia

Guru

Kita jadi pintar menulis dan membaca
Karena siapa
Kita jadi tahu ber-aneka bidang ilmu
Dari siapa

Kita bisa pandai dibimbing pak Guru
Kita bisa pintar dibimbing bu Guru
Guru-lah pelita penerang dalam gulita
Jasamu tiada Tara

Itulah ketiga lirik lagu yang sering muncul di TVRI pada era tahun 80-an tersebut. Pengarangnya siapa saya pun tidak tahu. Saya berharap suatu saat pihak TVRI (semoga masih menyimpan kaset rekamannya) bersedia menayangkan ulang ke-tiga lagu tersebut di TVRI ataupun meng-uploadnya di internet, saya akan berterima kasih sekali, sebagai kenangan masa kecil. Moga-moga.

Pada masa kecil saya dulu (sekitar tahun 80-an) dikenal berbagai macam permainan/Dolanan yang sangat mendidik, baik dari sisi fisik maupun kemampuan manajerial. Pada masa itu Acara TV hanya ada TVRI dan dimulai pada jam 16.30, sehingga anak-anak lebih banyak “Dolanan” dari pada menonton TV. Berbeda dengan masa sekarang. Disamping itu pada masa tersebut Permaian individualis seperti video game ataupun PS dan Nintendo belum ada, sehingga pada saat pulang sekolah atau masa istirahat sekolah, atau pada saat liburan sekolah semua anak berkumpul di lapangan (paling tidak tanah lapang atau halaman orang) untuk bermain/Dolanan. Dolanan itu ada yang bersifat fisik, dan ada yang bersifat ketrampilan. Ada yang dimainkan hanya oleh anak laki-laki dan ada pula yang hanya dimainkan oleh perempuan.

Berikut ini daftar permainan /Dolanan masa kecil yang bersifat Fisik yang masih bisa saya ingat:

1.       Engklek

Permainan yang sudah dikenal luas di seluruh dunia. Cara bermain dengan membuat pola kotak-kotak berurutan di tanah/lantai dan kemudian tiap pemain melompatinya dengan satu kaki sementara satu kaki lainnya menggantung (engklek), makanya disebut juga “Engklek”.
Lanjut Baca »

Agar Do’a Kita Terkabul

Ya Allah, Hanya Kepada-Mu lah Kami Memohon …

Banyak banget kan hal di dunia ini yang tidak semuanya bisa kita lakukan sendiri. Kita pasti butuh pertolongan dari orang lain. Apalagi masalah akhirat, wah ga usah ditanya kita juga ngerti kalo Allah lah yang bisa menolong kita. Makanya Islam mengajarkan agar kita berdoa. Allah Ta’ala berfirman,

وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ فَلْيَسْتَجِيبُوا لِي وَلْيُؤْمِنُوا بِي لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُونَ

Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang mendoa apabila ia berdoa kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu dalam kebenaran.” (QS. Al-Baqarah : 186)

Lalu gimana caranya biar kita doa kita terkabul? Berikut beberapa kiat agar do’a kita terkabul.
Lanjut Baca »

Sumber: http://detikhealth.com/
Sepatu atau sandal adalah aksesoris yang tidak bisa dilepaskan dalam kehidupan sehari-hari. Tapi tak ada salahnya untuk melepaskan aksesoris itu, karena ada manfaat kesehatan yang didapat dari berjalan dengan telanjang kaki.

Lanjut Baca »

Kampung Halaman

Kampung Halaman…
Tempat masa kecil dan tumbuh dewasa
Tempat orang tua dan handai taulan serta sanak kadang
Tempat mengasah hati nurani
Tempat mengasah kemampuan ber-empati
Tanpa kampung halaman hati menjadi kosong dan hampa
Kampung Halaman….
Tempat dimana aku berkata…
PULANG…

Ubaidi dan Keluarga mengucapkan
“Selamat Hari Raya Idul Fitri 1432H,
Minal Aidzin wal Faizin, Mohon maaf Lahir dan Batin”.

Di tanah lapang itu, Patih Suwondo tersungkur. Rahwana berhasil membunuhnya setelah pertempuran yang panjang. Tubuh Patih Suwondo setengah hancur. Ya, Patih suwondo gugur dengan mengenaskan. Tapi ia segera melesak ke swargaloka. Dan di sana, Patih Suwondo, yang di masa mudanya bernama Sumantri itu, bertemu kembali dengan Sukrosono, adiknya yang setia. Mereka seperti mengulang kembali masa kanak-kanak yang bahagia, melupakan dendam dan rasa bersalah. Tragedi ”anak panah” di antara keduanya bagai tak pernah terjadi.

Kita kenang perjalanan Sumantri sebelum menjadi Patih Suwondo. Sumantri dan Sukrosono adalah kakak beradik yang saling setia dan tak terpisahkan dalam suka dan duka. Suatu waktu Sumantri merasa bahwa inilah saatnya berpisah dengan adiknya yang setia untuk kemuliaan hidupnya. Sejak awal, anak muda ini memang telah menyiapkan masa depannya. Sumantri pergi menuju Maespati untuk mengabdi pada Prabu Arjunososrobahu. Sebab ia merasa mampu, juga pantas .
Lanjut Baca »

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai